Jumat, 2008 Juni 06

Mengenal Obyek Wisata Di Kutai Barat


Jantur Gemuruh

Obyek wisata Air terjun Jantur Gemuruh terletak di desa Mapan lebih kurang 10 km dari Melak. Keistemewaan Air Terjun Jantur Gemuruh terdapat candi‑candi peninggalan kerajaan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong lorong yang di buat di bawah tanah dengan lapisan batu panjangnya 50 m. Lokasi ini cocok untuk di jadikan lokasi penelitian pihak kepurbakalaan. Selain itu wisatawan juga dapat menghirup udara segar yang dihasilkan oleh pohon-pohon yang ada disekitar hutan air terjun tersebut. Untuk berkunjung ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda Melak, dilanjutkan dengan kendaraan roda dua/empat.


Cagar Alam Kersik Luway

Letaknya di kecamatan Melak, lebih kurang 15 km dari Desa Melak. Luas areal 5.000 ha .Merupakan salah satu kawasan konservasi yangb berada di Kalimantan Timur khususnya anggrek Hitam (Coelogyne pandurata). Ada beberapa jenis anggrek lain yang bisa ditemukan disini selai anggrek hitam diantaranya Erya vania, Erya florida, Coelogyne rocus Roini dan Bulpophylum mututina, Selain anggrek disini juga terdapat beberapa jenis Kantung semar. Fasilitas di lokasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan baqi wisatawan tersedia di Melak. Untuk berkunjung ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda Melak, dilanjutkan dengan kendaraan roda dua/empat.


Danau Bahadaq

Terletak di Kecamatan Long Iram kurang lebih 25 km dari Melak kalu ditempuh dengan kendaraan bermotor bisa memakan waktu selama 2 jam perjalanan. Yang menjadi daya tarik danau ini adalah pemandangan. sekitarnya yang cukup menarik. Kalau punya hobby memancing pengunjung juga bisa memancing disini. Bagi yang ingin datang kesana segala macam kebutuhan harap disapkan dahulu karena belum ada fasitas yang disediakan disana.


Jumat, 2008 April 04

Komitmen Indonesia Untuk Menjaga Hutan Perlu Dipertanyakan

Seperti yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia No.41/1999 Hutan Lindung didefinisikan sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan, mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.Ironisnya pada tanggal 4 Februari 2008 yang lalu peresiden RI menenatapkan PP Nomor. 2 Tahun 2008 tentang: Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan yang Berlaku pada Departemen Kehutanan.

Dengan keluarnya PP Nomor 2 Tahun 2008 seakan pemerintah memberi kesempatan kepada pengusaha HPH untuk mengeksploitasi sumberdaya hutan sesukanya. Kalau kita melihat dari kompensasi yang ditawarkan tentunya tidak sebanding dengan kerusakan yang akan ditumbulkan oleh adanya eksploitasi sumberdaya hutan tersebut, apalagi kita tahu bahwa proses suatu hutan menjadi klimaks itu memerlukan waktu yang sangat lama bisa puluhan tahun bahkan sampai ratusan tahun.
Kalau kita melihat sejenak mengenai Fungsi Hutan Lindung sebagaimana yang tercantum dalam UU RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan tentunya sangat bertentangan sekali dengan fungsi dari Hutan Lindung itu sendiri.

Bila kaitkan dengan laju deforestasi dan kerusakan hutan di Indonesia saat ini yang terus mengalami peningkatan yaitu diperkirakan sekitar 6 kali luasan lapangan bola hutan kita berkurang setiap menitnya. Dengan keluarnya PP tersebut tentunya akan meningkatkan laju deforestasi dan laju kerusakan hutan di Indonesia yang sebelumnya hanya 6 kali luasan lapangan bola permenitnya mungkin meningkat menjadi 12 kali atau 24 kali atau bahkan lebih dari itu. Bila kita melihat Fungsi hutan Tropis yaitu sebagai paru-paru dunia yaitu sebagai penyerap Gas Rumah Kaca sehingga bisa mencegah terjadinya pemanasan global. Fungsi hutan sebagai penghasil oksigen dan sebagai penyerap gas rumah kaca akan terus berjalan apabila kita selalu menjaga dan melestarikan hutan serta memanfaatkan sumberdaya hutan itu dengan bijaksana.

Indonesia merupakan salah satu anggota Forestry Eight ( F8 ) yaitu negara negara yang memiliki hutan tropis yang sudah berkomitmen untuk menjaga melestarikan keberadaan hutan tropis sebagai paru-paru dunia. Kita tahu yang pertama kali memprakarsai berdirinya forum negara-negara pemilik hutan tropis adalah Indonesia. Dengan keluarnya PP No. 2 Tahun 2008 komitmen Indonesia untuk menjaga keberadaan dan kelestarian hutan perlu dipertanyakan.

Minggu, 2008 Maret 30

Pemansan Global


Pemanasan global atau sering disebut global warming merupakan gejala meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer. Naiknya suhu di permukaan bumi disebabkan oleh aktivitas manusia di bumi


Beberapa Penyebab Pemanasan Global :

  • Pembakaran bahan bakar fosil (Minyak bumi, Batubara, Gas alam, dll) menghasilkan gas rumah kaca seperti Karbon Dioksida (CO2)
  • Kebakaran hutan menghasilkan gas Karbon Dioksida (CO2)
  • Sawah yang selalu tergenang air manghasilkan gas Metana (CH4)
  • Pemanfaatan pupuk menghasilkan gas Dinitro Oksida (N2O)
  • Pembakaran padang untuk dijadikan lahan menghasilkan gas KarbonDioksida
  • Kotoran ternak yang membusuk akan melepskan gas Metana (CH4)
  • Sampah yang menumpuk menghasilkan gas metana.


Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca :

1. Energi dari matahari diserap bumi

2. Sebagian energi diserap bumi, dan sebagiannya lagi dipantulkan oleh atmosfir ke angkasa.

3. Energi yang diserap menghangatkan bumi, kemudian dipantulkan kembali ke angkasa dalam bentuk sinar infra merah atau energi panas

4. Sebagian sinar infra merah dipantulkan kembali ke bumi oleh partikel-partikel atmosfir yang disebut gas rumah kaca.

5. Energi infra merah diserap oleh molekul -molekul gas rumah kaca.

6. Energi ini kemudian dipantulkan ke segala arah.

7. Makin banyak gas rumah kaca, makin banyak energi yang dipantulkan, sehinga bumi terasa panas.

Dampak Pemanasam Global

Pemansan global ternyata membawa dampak yang sangat besar terhadap iklim . Dampak yang ditimbulkan oleh pemanasan global terhadap iklim seperti yang terjadi di beberapa belahan dunia, yaitu meningkatnya curah hujan. Adapun belahan dunia yang lain mengalami kekeringan yang berkepanjangan sebagai akibat dari kenaikan suhu.

Benua Amerika sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar, mengakibatakan peningkatan curah hujan selama 1990-2000. Sebaliknya, benua Afrika curah hujan menurun, padahal kadar emisi gas CO2 yang dihasilkan rendah.

Indonesia bukan termasuk negara penghasil gas rumah kaca yang besar, tetapi menerima dampak dari pemanasan global, seperti meningkatnya suhu udara, Pola curah hujan yang tidak menentu yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor hampir terjadi di seluruh Indonesia; Sedangkan di tempat lain mengalami kekeringan, permukaan air laut naik mengakibatkan terjadinya intrupsi air laut, beberapa jenis flora fauna akan punah karena tidak mampu beradaptasi, kebakaran hutan karena peningkatan suhu, kurangnya kekebalan tubuh terhadap penyakit yang mengakibatkan meningkatnya frekuensi penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah.